Pendakian via Singolangu, Napak Tilas Jalur Prabu Brawijaya di Gunung Lawu

0
111

Sensasi yang menguji nyali membawa pikiran masuk ke dalam lorong waktu, kicauan burung bersahutan memecah kesunyian. Daun – daun berguguran menyelimuti bumi yang bersemi, redup siang sebab pancaran surya terhalang rimbun lebatnya pepohonan.

Prasasti di masa pelarian Brawijaya V mengunci lorong waktu menahan sementara agar menikmati ketegangan yang lari dari kejaran pasukan Demak.

Jalur pendakian gunung Lawu via Singolangu, diyakini adalah jalur tertua diantara jalur yang sudah di buka lainya. Berbeda dengan jalur Cemoro Sewu yang cukup bersahabat bagi pendaki pemula karena jalur yang ramai pendaki ditambah lagi dengan keberadaan warung-warung yang menyediakan makanan bahkan bisa menjadi alternativ penginapan.

Walaupun tersusun dari batu, ini sangat memudahkan para pendaki untuk tetap terjaga dalam jalur utama, trek jalur ini merupakan jalur tercepat dibandingkan jalur lain.

Kondisi Jalur yang ramai dan minim pohon-pohon besar serta pemandangan puncak-puncak gunung di sebelah selatan menjadi bonus tersendiri, bahkan di jalur ini sering dijumpai “solo hiker”.

Pengalaman dan sensasi berbeda akan dirasakan ketika mencoba pendakian melalui jalur Singolangu. Waktu tempuh jalur ini relative lebih lama, karena posisi start yang masih di bawah yaitu kurang dari 1800 mdpl ( Cemoro Sewu ) atau sekitar 1.600 an mdpl yaitu melalui lingkungan Singolangu, kelurahan Sarangan.

Medan yang ceenderung landai mulai dari start (gerbang pendakian) sampai pos 3 Cemaran (Hutan Cemara). Meskipun cenderung landai kita akan melingkari tepian lereng dan menyeberangi sungai, ini yang membuat perjalanan sedikit terasa lama di pos-pos bawah.

Pos  2, hutanya mulai terasa lembab dan cenderung basah, harus berhati-hati karena agak licin, memasuki hutan yang yang pohonya tinggi dan besar, tidak ada rerumputan di bawahnya, kita harus jeli karena warn ajalur dan tanah hutanya sama, jug atersamarkan oleh dedaunan. Masuk ke hutan lumut, di sini sangat lembab dan terasa seperti dalam film-film fantasi.

Lumut yang tumbuh di batang pohon bhajan sampai bergelantungan menandakan bahwa lingkungan ini belum terkontaminasi polusi. Sambil berjalan menikmati suasan hutan lumut, kita sampai di Cemoro Lawang, yaitu pintu gerbang Cemaran ( Hutan Cemara ) Pos 3.

Bagi pendaki ynag berangkat sore hari,  Direkomendasikan untuk menginap di sisni, tempatnya sangat nyaman dan terlindung dari badai dan hujan lebat. Berada di bawah pohn cemara yang menjulang, lahan yang datar. Terdapat shelter untuk beristirahat, di sebelah shelter terdapat tangkapan air diantara pohon cemara. Air ini bisa dimanfaatkan untuk memasak jika menginap di sini.

Kemudian keluar dari pos 3 kita akan terus menanjak sampai pos 5 Cokro Paningalan, sebelum sampai pos 5 kita bisa menghela nafas di pos 4 Taman Edelweiss, tempatnya cukup datar terdapat 1 shelter dan dikelilingi Edelweiss, jika beruntung kita kan menemukan 2 jenis warna edelweiss yang mekar.

Jarak dari Pos 3 ke Pos 4 adalah yang terpanjang, di sini terdapat tanjakan yang curam yang diberi nama “Tanjakan Penggik Coyo”. Di dalam peta yang diberikan pengelola sudah di berikan peringatan “Apabila ragu-ragu, lebih baik kembali”. Jika melewati daerah ini (Tanjakan Penggik Coyo) saat sudah petang atau malam, lebih baik membuat tenda di camp ground yang disediakan.

Selain tanjakanya yang menantang, posisi jalur yang berada di punggungan gunung menjadi sensai tersendiri, suara kabut yang melintas lembah terdengar seperti angin yang besar. Sampai di Pos 4 kita sejajar dengan spot yang bernama “Kandang Umbaran”. Sebuah sabana di seberang lembah yang terletak di ujung bukit dan dikelilingi oleh pohon pinus / cemara.

Tidak jauh meninggalkan Pos 4, kita sampai di Sabana lagi yang bernama “Bukit Famili” disini juga terdapat mata air, dengan masuk ke kanan dari jalur ke puncak sejauh 200 m. Istirahat di Bukit Famili, kita akan menanjak lagi menuju Pos 5. Tidak jauh dari Pos 4, kami mnemukan 2 jenis kotoran binatang yang berbeda, salah satunya kotoran menjangan atau rusa yang masih basah.

Pemandangan habitat alamai asli sangat terasa disisni, banyak spesies burung dan buah-buahan disepanjang jalur yang bis akita manfaatkan untuk menunda lapar atau menghilangkan haus.

Burung jalak yang sering mendekati pendaki seperti halnya di jalur Cemoro Sewu, terdapat 2 spesies burung jalak yang kami temui yaitu Jalak Lawu ( paruuh kuning, bulu abu-abu ), dan Jalak Hitam (paruh kuning, bulu hitam)

Kita telah sampai di Bayangan Pos 5, Sabana lagi, terdapat  shelter di dekat pepohonan, dan kita sejajar dengan Kandang Umbaran. Di pos bayangan ini tempatnya sangat luas dan menjadi camp ground bagi pendaki. Pemandangan bebas ke arah timur menjadi daya tarik tersendiri, kita akan melihat lansekap Jawa Timur sampai garis Cakrawala.

Pemandangan di bayangan pos 5 terasa lebih sempurna ketika kaki menginjakkan kaki di Pos 5 yang sesungguhnya, Cokro Paningalan. Mata kita disuguhi santapan lezat kontur bumi Jawa Timur dan Sebagian kecil Jawa Tengah, puncak-puncak gunug dibagian selatan juga terlihat semua, seperti puncak Candi, Mongkrang, Jobolarangan, Kukusan, Ampyangan dan lainya.

Perjalanan kami lanjutkan dengan sedikit santai kit tiba di hutan tepat di bawah Sendang Drajad. Pohon-pohon yang tumbuh di sini tidak seperti di bawah, lebih jarang ditumbuhi pohon-pohon keras dan di dominasi olrh rumput sejenis ilalang. Kita juga kan menjumpai pencari kayu bakar untuk bahan bakar di warung-warung yang berada di puncak.

Mendekati pertemuan jalur, mulai terlihat banyak pendaki yang lalu Lalang dan suara obrolan pendaki terdengar sampai disini. Oke kota sampai di Sendang Drajad, yang artinya sudah sampai di Kawasan puncak.

Sekian artikel Ragam Magetan kali ini, dukung kami menyajikan konten-konten bermanfaat lianya dengan berlangganan artikel kami, sampaikan saran di kolom komentar, dan jika bermnfaat untuk orang lain silahkan bagikan.

Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here