Hujan di Saat Musim Kemarau, Mengapa Bisa Terjadi?

0
151
Hujan di Saat Musim Kemarau, Mengapa Bisa Terjadi?

Beberapa wilayah di Indonesia sudah mulai diguyur hujan sejak awal Agustus ini. Bahkan beberapa hari yang lalu di Magetan dan beberapa Kabupaten disekitarnya juga di guyur hujan mulai intensitas sedang hingga lebat.

Selain DKI Jakarta, wilayah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan sejumlah wilayah lain di Jawa Tengah juga mengalami hujan deras, terutama pada siang atau malam hari.

Apakah saat ini sudah mulai memasuki musim hujan, mengingat beberapa wilayah masih mengalami kemarau?

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) Indra Gustari menjelaskan, musim kemarau dan musim hujan di Indonesia terjadi tidak serentak.

“Analisis kami terhadap data hujan, menunjukkan bahwa iklim di Indonesia tidak seragam. Demikian juga, musim kemarau dan musim hujan,” kata Indra kepada Kompas.com, Kamis (13/8/2020).

Saat di sebagian besar daerah di selatan ekuator (Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua bagian Selatan) berada pada puncak musim hujan, sebagian daerah Sumatera bagian utara mulai memasuki musim kemarau.

Sebaliknya, saat musim kemarau di wilayah yang berada di selatan ekuator mencapai periode-periode puncaknya (Juni-Juli-Agustus), di sebagian sebagian Sulawesi bagian tengah, Maluku, Papua bagian barat sedang mengalami puncak musim hujan.

Sudah musim hujan
Indra menjelaskan, daerah yang sudah musim hujan saat ini adalah sebagian daerah di Sumatera bagian utara.

Sementara itu, meski daerah lainnya sudah hujan, bukan berarti sudah masuk musim hujan. Menurut dia, yang terjadi saat ini adalah hal yang biasa terjadi.

Hujan turun beberapa hari saat musim kemarau (wet spell) dan sebaliknya, ada beberapa hari kering pada musim hujan (dry spell).

Itu disebut sebagai variabilitas iklim, yang diakibatkan oleh adanya pola gangguan cuaca/iklim pada skala waktunya umumnya lebih pendek,” kata Indra.

Indra menjelaskan, parameter memasuki musim hujan di antaranya ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) lebih dari 50 milimeter.

Kemudian, diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya,.

Menurut dia, permulaan musim hujan dapat terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya (rata-rata 1981-2010).

Data hingga 2020 digunakan sebagai baseline (normal) atau acuan untuk menentukan apakah curah hujan yang terjadi di bawah normal, normal, dan atas normal.

Sumber : Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here